SOLO – LOMBOK (Catatan Perjalanan)

Usai subuh berangkat dari kampung halaman menuju pulau berjuluk Seribu Masjid, Lombok. Dari Kartasura, kota kecil di kabupaten Sukoharjo sebelah barat persis kota Solo. Mengendarai bus Patas jurusan Surabaya, dengan biaya Rp. 96.000 menempuh perjalanan darat sekitar tujuh jam. Dengan bus Eka, kita memperoleh fasilitas air mineral dan makan sekali. Makan dengan beberapa pilihan menu di rumah makan Duta yang terletak di daerah Ngawi. Rawon, Soto, ayam bakar, gulai, dan lain sebagainya dihidangkan dengan cukup sederhana. Rasa makanan kadang enak, terkadang juga hambar setelah beberapa kali mencicipi saat melakukan perjalanan dari atau menuju Surabaya. Meski demikian, cukup lumayan untuk mengisi perut kosong selama dalam perjalanan. Duduk manis sambil tiduran selama lebih kurang empat jam, usai menikmati service makan di Ngawi. Melewati hutan dan kemacetan jalanan, cukup untuk menciptakan penat. Maka dari itu, tidur tentu saja menjadi pilihan terbaik sampai tiba di Surabaya.

Masuk terminal Bungurasih di Surabaya, panas mulai terasa. Usai menikmati AC bus yang lumayan dingin, saat turun untuk mencari kendaraan menuju pelabuhan. Seperti biasanya di terminal, keluar pintu bus akan banyak orang menyambut kedatangan kita. Tak lain dan bukan adalah penyedia jasa layanan transportasi seperti taksi dan ojek. Setiba di terminal balas saja dengan senyum keberadaan mereka jika memang tidak menginginkan layanan yang ditawarkan. Langsung masuk saja ke dalam terminal menuju ruang informasi. Bertanya saja pada petugas yang lumayan ramah untuk transportasi menuju Tanjung Perak. Maka kita akan diarahkan menuju terminal pemberangkatan Damri yang berada di sisi kiri terminal. Menuju Tanjung Perak kita dapat menggunakan Damri dengan kode P4, P1, atau PAC1. Sekitar setengah jam menempuh perjalanan dengan Damri berkode P4 kita akan dikenakan tarif sebesar Rp. 6000. Bus akan berhenti tepat di depan pelabuhan, dan ketika turun kita aka berjumpa hal yang sama. Begitu banyak sambutan, seperti halnya di Bungurasih. Hanya saja bedanya di Tanjung Perak lebih banyak orang menawarkan tiket ketimbang jasa layanan transportasi.

Jalan kaki menuju depan pelabuhan, ada papan petunjuk untuk pembelian tiket Surabaya-Lombok. Dan lumayan ramah masyarakat di sekitar pelabuhan. Kalau bingung, tinggal tanya juga pasti ditunjukkan. Harga tiket saat ini sudah naik untuk penumpang dengan tanpa kendaraan. Meski gak begitu banyak jumlah kenaikannya, dari sebelumnya Rp. 82.000 sekarang Rp. 117.000 termasuk dua kali makan yang bertarif Rp. 30.000. Jika jadwal tidak molor, Pk. 14.00 WIB kapal sudah berangkat. Tapi kalau molor, tentu kita wajib menunggu jam keberangkatan yang biasanya akan diinformasikan pada saat pembelian tiket oleh petugas. Agak repot memang ketika menunggu karena jadwal keberangkatan molor. Pasalnya tidak ada ruang tunggu yang disediakan khusus oleh pihak ASDP. Tapi tenang, karena ada masjid di seberang jalan dari lokasi pembelian tiket jika pengin mencari tempat yang bersih dan adem. Kalau berat bawa barangnya, bisa dititip di tempat penitipan. Lumayanlah biar agak enteng, plus penitipan dijaga oleh para merbot yang ramah dan gratis. Cukup ngucapin terima kasih sepertinya cukup, ya kalau ada sedikit rejeki longgar boleh juga ngisi kotak infaq di masjid itu. Sekaligus beramal saleh, anggap saja ucapan terima kasih kita karena numpang nunggu kapal. Selain itu ada fasilitas minimarket di kompleks masjid, kalau-kalau kita butuh makanan atau minuman untuk mengisi kegiatan atau tambahan bekal sembari menunggu kedatangan kapal.

Begitu kapal datang, langsung saja kita masuk ke pelabuhan dan menuju di mana Legundi berada. Masuk ke dalam kapal dan langsung naik ke lantai 3. Banyak kursi terpampang di sana, pilih saja gak usah berebut karena akan sama saja. Bagi ibu hamil, lansia, atau anak-anak, baiknya hubungi petugas untuk minta matras. Agar dapat lebih leluasa ketika ingin beristirahat di atas kapal. Saya sarankan untuk mencari tempat duduk yang dekat dengan colokan listrik, kali aja pengin nge-charge hp atau apa. Duduk dan tunggu sampai kapal berangkat, atau mungkin pengin makan dulu dengan membeli nasi bungkus yang ditawarkan pedagang seharga Rp. 10.000-an sembari menunggu. Atau kalau ingin menikmati jajanan di cafetaria, gak begitu mahal kok. Mulai dari kopi yang seharga Rp. 5.000, Pop Mie Rp. 15.000, air mineral tanggung Rp. 7.000, air mineral besar Rp. 15.000, Rokok Surya 16 seharga Rp. 30.000. Lumayanlah untuk menikmati perjalanan, karena di laut sudah gak ada lagi pedagang berlalu-lalang.

Perjalanan di atas laut gak menentu, menurut perhitungan normal yaitu berkisar antara 19-21 jam. Kalau perjalanan cepat bisa jadi tiba di Lombok hanya sekitar 17-18 jam saja. Mungkin akan kebayang bosan di atas kapal selama itu. Nah untuk mengatasi itu, kita bisa menikmati film-film yang diputar di dek kapal sepanjang perjalanan. Atau kita bisa jalan-jalan keliling kapal, ngopi di cafe bagian luar sambil menikmati angin laut. Kalau yang pengin mendekatkan diri kepada Tuhan, bolehlah berdiam diri di Mushola. Sesampai di Lombok, kita akan bersandar di pelabuhan Lembar. Gak ada transportasi umum yang berlalu lalang layaknya bus atau angkot. Tapi kita gak perlu khawatir untuk eksplor Lombok. Cukup kita carter dengan mencari kawan yang sama-sama turun dari Legundi. Carter mobil bareng-bareng ber 5 paling hanya akan dikenakan ongkos sebesar Rp. 20.000 tujuan terminal Bertais atau terminal Mandalika. Nikmati saja perjalanan yang akan memakan waktu sekitar 45 menit sampai 1 jam. Pilihan lainnya kita berhenti di terminal Damri yang berlokasi tidak jauh dari terminal Mandalika. Sesampai di Mataram (terminal) silahkan mencari transportasi yang tepat dan sesuai untuk menuju tujuan yang diinginkan. (Galih Suryadmaja)

One comment

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *